Unspoken Words

i wont tell you

Tidak perlu basa basi, katakan saja kemudian hapus aku October 29, 2011

Filed under: Buah pikiran,Poem — Ardaneswari @ 2:39 am

Sembunyikan
Yang tidak berarti
tidak dikenal
Kesenangan semata

Sila bilang membosankan
Hanya memang kata-kata seolah hilang
Didepan mu
(padahal banyak yang telah terangkai)

Menatap keindahan
kiranya cepat atau lambat akan menghilang
Menikmati keindahan dihujani cemas
belum berkenalan dengan sang waktu

Kesenangan,
Cepat atau lambat, tetap harus memilih
Memilih untuk sebuah keutuhan
Cepat atau lambat

Sakit hati

 

 

#repostFacebookNote

 

so, are you there, Ma? October 11, 2011

Filed under: Poem — Ardaneswari @ 8:38 pm
Tags: ,

It happens again..

It just happens..

 

Rani menggigit lidahnya keras-keras

Mengepalkan tangan kencang-kencang

Rani kuat menahan luka

Bukan sekedar luka

Bukan, bukan luka fisik

Bukan, bukan hanya luka hati

Ini tingkat kesadaran baru Rani atas apa yang telah diperbuatnya.

 

Bermain

Kata berimbuhan dari kata dasar main,

Kegiatan yang kerap kali dilakukan anak-anak

 

Main

Kegiatan yang kerap kali Rani lakukan

Bermain dan mempermainkan hati orang lain

Rani tidak punya hati, karena itu Rani ingin sesekali merasakn rasanya bagaimana punya hati. Kemudian Rani sesekali meminjam hati orang lain. Sebentar. Kemudian dikembalikan. Dipinjam, dilihat-lihat kemudian dikembalikan. Dipinjam, dicoba dan dikembalikan. Dipinjam, dimainkan dan dikembalikan. Sampai akhirnya Rani mencoba memakai hati orang lain dan ia lupa mengembalikannya.

Sekarang Rani punya hati.

Tapi bukan hati Rani.

 

Sekarang Rani punya hati.

Tapi bukan hati Rani.

 

Kamu tau dimana hati asli Rani?

Tak apa, yang penting sekarang Rani punya hati.

 

****

 

Menahan tawa

Ma menahan tawa sekuatnya

Menahan rasa heran dan expresinya

Bukan, bukan hal konyol

Bukan, bukan pula hal yang mengharukan

Bukan, bukan expresi yang mengherankan

Ini hanya suatu reaksi dari apa yang memang seharusnya terjadi.

 

Entah kenapa, setiap kali Rani jalan lewat depan Ma, Ma selalu berwajah konyol

Seperti seakan Ma melihat sesuatu dan menahan tawa. Menahan hingga wajahnya pun terlihat konyol.

 

 

Karma

Kamu benar ada.. atau ini hanya kebetulan?

Kudengar kamu sudah mati empat tahun yang lalu…

 

**

 

Ma tertawa lepas sembari berjalan santai meninggalkan Rani

Mai tertawa lepas sembari menggenggam hati

Diremas dan dimainkan, hati Rani diberikan kepada anjing dijalan

Biar anjing itu yang teruskan bermain dengan hati Rani, sebut Ma

 

Rani memang tak pernah punya hati.

 

Mimpi January 11, 2011

Filed under: Buah pikiran — Ardaneswari @ 8:27 pm

Sajak tentang Mimpi (Latihan menulis puisi no.43)


Andai aku punya pilihan mimpi apa
malam ini aku tak ingin:

 

 

/1/ mimpi bertemu kau

tentu membuatku berdebar-debar
kita bertemu kemudian berpelukan
sambil membuka mata lebar-lebar
memastikan bahwa ini bukan mimpi
lalu kau bilang ‘ini benar-benar nyata ’

 

tetapi begitu bangun, seperti biasa
pikiranku tak pernah bisa lepas dari
kemungkinan:
kau tak pernah ingin memeluk aku

 

 

/2/ mimpi bertemu Tuhan

 

tentu menjadi mudah memohon Dia
menunjukkan dimana letak rumahmu
lalu aku buru-buru menemuimu;
dengan ragu-ragu aku bertanya:
apakah kau lupa dimana letak rumahku
kau akan menjawab :
‘kenyataannya bukan seperti itu’
kemudian kita berpelukan
sambil membuka mata lebar-lebar

 

 

tetapi begitu bangun, seperti biasa
pikiranku tak pernah bisa lepas dari
kemungkinan:
kau tak pernah ingin mememui aku

 

 

*

Malam ini aku tak ingin bermimpi

 

 

ditulis ulang dari Dwi Latihan Puisi

 

Lambaian Lima Jari January 11, 2011

Filed under: Buah pikiran — Ardaneswari @ 8:26 pm

Sajak Lima Jari Tangan (latihan menulis puisi no.41)

 

/1/ ibu jari

Ibu jariku terbilang kecil tapi bisa dibilang jempolan: bisa mengubah huruf menjadi sapu ijuk; sapu ijuk menjadi nasi pincuk.Tetapi jari ibuku lebih jempolan: bisa menidurkan bayi yang insomnia

 

 

/2/ telunjuk

Jari telunjuk pintar menunjuk Waktu kecil saat aku menangis ibu buru-buru mencari cicak untuk kutunjuk-tunjuk Sampai kini, sebelum tidur aku menunjuk gambar cicak yang kupasang di dinding kamar

 

 

/3/ jari tengah

Jari tengah yang paling panjang waktu kecil aku pakai menjentik gundu Ibuku pernah menjentik telingaku saat kucuri gundu. Kini temanku hanya tertawa saat aku curi bola golf untuk main gundu

 

 

/4/ jari manis

Kata orang jari manis paling manis Makanya, cincin kawin tak pernah aku pindah Ketika wanitaku tersenyum menyematkannya di jari manis, aku malah menangis sebab undangan untuk ibuku tidak sampai alamatnya tidak jelas, kata panitia

 

 

/5/ kelingking

Jari kelingking memang paling kecil Sejak kecil aku suka ngupil, lalu kukejar-kejar kakak Ibu selalu sigap menangkapku;” ih, adik jorok,” katanya Sampai kini aku sering sengaja ngupil di tempat umum ; berharap ibu tiba-tiba menangkapku sesigap dulu

 

Lima jari tanganku semuanya hebat Mereka yang pertama kali bisa memberi salam “dada,…dada ayah” begitu ibu mengajariku melepas ayah mencari nafkah Setelah aku bisa ‘dada’ sendiri, ibu pergi pagi-pagi sekali kini aku masih menunggu; ingin diajari ‘dada’ lagi

 

aku belum pinter ‘dada’, ibu!

 

selamat idul fitri kunyanyikan lagu sayonara untukmu

 

Sajak ini ditulis ulang dari notes Dwi Latihan Puisi, semoga terinspirasi

 

Dua Kau yang Berbeda November 17, 2010

Filed under: Buah pikiran — Ardaneswari @ 11:30 pm

Kau dan kau ; sama-sama kucari..

Kucari kau dan kucari.
Kucari kau disetiap mata yang kutemui. Kucari dengan aksi yang dapat kulakui. Kucari kau tanpa ku akui. Kucari dan terus kucari.

 

**

 

Aku pergi dan kau mencari. Aku kembali dan kau tak peduli. Aku mengacau dan kau memarahi. Aku menjinak dan kau tak menyadari. Aku kau ragukan? Mungkin dirugi, tapi kau bahkan tak peduli.

 

**

 

Kucari kau dan terus kucari. Kucari kau disetiap aksi. Namun ia tidak peduli. Kucari kau dan terus kucari. Tapi hanyapembandingan yang terus kudapati…

 

**
Sudah sekian lama ku terus mencari strategi. Mengubah strategi. Mencari inovasi. Hanya untuk mendapati kau yang masih terus kucari. Kucari kau dimalam hari. Kucari kau dipagi hari. Kucari kau di jarak yang membatasi. Kucari kau di jarak sejengkal jari..
Apaboleh buat, kau kan terus menghakimi.

 

 

**

 

Kucari dan kau kucari. Apa yang kau ketahui? Aku mencari hingga aku rela hampir mati. Kucari kau sementara kau hanya melenggang tak peduli.
Tak peduli.
Tak peduli
Pura-pura mengetahui.
Pura-pura mengetahui.
Pura-pura memprediksi.
Kau tak peduli.Prestige. Satu kata untuk buat kau peduli. Hal yang aku tak miliki. Aku mencari kau untuk peduli! Peduli, lihat mata ini!

 

Ini mata yang terus kau bodohi, yang mencari rasa peduli.

 

Satu hal yang perlu kau ketahui… Aku punya hati..

 

Aku kosong, disini tidak ada yang memenuhi.
Disini tidak ada yang memenuhi.
Rasa peduli. Rasa mengasihi. Temani…
Temani..
Temani didalam sini..
Jangan, jangan melenggang pergi!!

Sepi…

 

**

 

Kucari kau dan terus kucari. Tapi kau tetap tak percaya…

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.