Sajak Lima Jari Tangan (latihan menulis puisi no.41)
/1/ ibu jari
Ibu jariku terbilang kecil tapi bisa dibilang jempolan: bisa mengubah huruf menjadi sapu ijuk; sapu ijuk menjadi nasi pincuk.Tetapi jari ibuku lebih jempolan: bisa menidurkan bayi yang insomnia
/2/ telunjuk
Jari telunjuk pintar menunjuk Waktu kecil saat aku menangis ibu buru-buru mencari cicak untuk kutunjuk-tunjuk Sampai kini, sebelum tidur aku menunjuk gambar cicak yang kupasang di dinding kamar
/3/ jari tengah
Jari tengah yang paling panjang waktu kecil aku pakai menjentik gundu Ibuku pernah menjentik telingaku saat kucuri gundu. Kini temanku hanya tertawa saat aku curi bola golf untuk main gundu
/4/ jari manis
Kata orang jari manis paling manis Makanya, cincin kawin tak pernah aku pindah Ketika wanitaku tersenyum menyematkannya di jari manis, aku malah menangis sebab undangan untuk ibuku tidak sampai alamatnya tidak jelas, kata panitia
/5/ kelingking
Jari kelingking memang paling kecil Sejak kecil aku suka ngupil, lalu kukejar-kejar kakak Ibu selalu sigap menangkapku;” ih, adik jorok,” katanya Sampai kini aku sering sengaja ngupil di tempat umum ; berharap ibu tiba-tiba menangkapku sesigap dulu
Lima jari tanganku semuanya hebat Mereka yang pertama kali bisa memberi salam “dada,…dada ayah” begitu ibu mengajariku melepas ayah mencari nafkah Setelah aku bisa ‘dada’ sendiri, ibu pergi pagi-pagi sekali kini aku masih menunggu; ingin diajari ‘dada’ lagi
aku belum pinter ‘dada’, ibu!
selamat idul fitri kunyanyikan lagu sayonara untukmu
Sajak ini ditulis ulang dari notes Dwi Latihan Puisi, semoga terinspirasi
Recent Comments